Senin, 26 Desember 2011

Khutbah "amal yang tetap bermakna"


Kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT.
Dalam kehidupan yang sangat pendek ini, mari kita lebih meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, agar kita memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Disamping itu mari kita senantiasa berusaha menjadi hamba-hamba Allah SWT. Yang semakin hari makin baik dan semakin hari makin meningkatkan kebaikan-kebaikan dan ibadah kita kepada Allah SWT. Dan semoga apa yang kita perjuangkan dapat menjadi sebuah kesuksesan yang dirida’i-Nya.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT.
Pada kesempatan ini saya hendak menyampaikan sebuah khutbah tentang “Amal yang Tetap Bermakna”.
Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan melakukannya jika sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan,maka  meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah SWT. datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama Allah SWT. malah menghilang.
Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada Allah SWT. sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.
Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.
Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Allah SWT. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.
Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.
Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.
Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Allah SWT saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, "Bismilahirrahmanirrahiim, ya Allah semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji Allah atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah SWT.
Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat Allah SWT.       memberinya peringatan dengan sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang Allah SWT karuniakan kepada kita.
Begitupun jika hendak membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena Allah SWT. Misalnya, ketika membeli kendaraan, niatkan karena Allah SWT. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk Allah SWT, 2) Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk Allah SWT. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub, maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misalkan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaran untuk diri sendiri.
Pastikan bahwa jika kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena Allah SWT. Karenanya bermohon saja kepada Allah SWT. "Ya Allah saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah". Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini. maka, Insyaallah bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat, maka kita juga yang akan menanggungnya.
Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah.
Semoga dengan khutbah yang saya sampaikan ini dapat menjadikan kita yang memiliki hati yang ikhlas dalam menjalankan kehidupan ini, terutama dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT.
                Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan, semoga dapat berkenan dan bermanfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin......


Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More